Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fauna. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 April 2010

Tikus Bunuh Ular

Memang selalu ada kejadian aneh setiap harinya. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di sebuah kandang ular, di Kota Nantao, Taiwan. Niat awalnya adalah memberikan makan ular dengan menu seekor tikus. Tapi apa yang terjadi, bukannya tikus yang dimakan malahan sang ular yang mati karena gigitan tikus.

Ular yang memiliki panjang 35 centimeter ini adalah hasil tangkapan dari seorang petugas pemadam kebakaran. Karena sudah terlihat lapar, maka sang petugas mencari makanan untuk ular tersebut. Lalu ditangkaplah seekor tikus kecil untuk makan siang ular tersebut.

Tapi apa yang terjadi, suatau kejadian yang aneh tampak jelas di depan mata. Tikus yang seharusnya menjadi makanan sang ular malah bertingkah lincah dan sangat berani. Si tikus semakin bertingkah saat melihat sang ular yang siap melahapnya. Si tikus menyerang ular itu habis-habisan.

“Tikus berani itu terus melakukan penyerangan dengan menggigit dan mencakar” kata petugas pemadam kebakaran tersebut.

Sekitar setengah jam, aksi bak smakdown antara ular dan tikus itupun berakhir. Ular yang seharusnya menyantap menu makanannya, malah mati tak berdaya. Di sekujur tubuhnya penuh luka cakaran dan gigitan si tikus.(bam/adm)

Paparan Sunda

Gajah Kalimantan, subspesies Gajah Asia

Hewan-hewan di daerah paparan Sunda, yang meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya, memiliki karakteristik yang menyerupai fauna di Asia. Selama zaman es, setelah Laurasia terpecah, daratan benua Asia terhubung dengan kepulauan Indonesia. Selain itu, kedalaman laut yang relatif dangkal memungkinkan hewan-hewan untuk bermigrasi ke paparan Sunda. Spesies-spesies besar seperti harimau, badak, orangutan, gajah, dan leopard ada di daerah ini, walaupun sebagian hewan ini sekarang dikategorikan terancum punah. Selat Makassar, laut antara Kalimantan dan Sulawesi, serta selat Lombok, antara Bali dan Lombok, yang menjadi pemisah dari Garis Wallace, menandakan akhir dari daerah paparan Sunda.

Mamalia

Paparan Sunda memiliki spesies berjumlah total 381. Dari jumlah itu, 173 di antaranya merupakan spesies endemik daerah ini.[7] Sebagian besar dari spesies-spesies ini terancam keberadaannya. Dua spesies orangutan, Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan Sumatra) termasuk dalam daftar merah IUCN. Mamalia terkenal lain, seperti kera berhidung panjang Kalimantan (Nasalis larvatus), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) juga sangat terancam jumlah populasinya.

Fauna Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Harimau Sumatra, subspesies harimau terkecil yang hanya ada di Indonesia

Fauna Indonesia memiliki keanekaragaman yang tinggi karena wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan tropis[1]. Keanekaragaman yang tinggi ini disebabkan oleh Garis Wallace, membagi Indonesia menjadi dua area; zona zoogeografi Asia, yang dipengaruhi oleh fauna Asia, dan zona zoogeografi Australasia, dipengaruhi oleh fauna Australia[2]. Pencampuran fauna di Indonesia juga dipengaruhi oleh ekosistem yang beragam diantaranya: pantai, bukit pasir, estuari, hutan bakau, dan terumbu karang.

Masalah ekologi yang muncul di Indonesia adalah proses industrialisasi dan pertumbuhan populasi yang tinggi, yang menyebabkan prioritas pemeliharaan lingkungan menjadi terpinggirkan[3]. Keadaan ini menjadi semakin buruk akibat aktivitas pembalakan liar, yang menyebabkan berkurangnya area hutan; sedangkan masalah lain, termasuk tingginya urbanisasi, polusi udara, manajemen sampah dan sistem pengolahan limbah juga berperan dalam perusakan hutan.